Friday, June 15, 2007

Pertemuan industri batubara di Bali, diserbu pasukan Greenpeace

Bali, Indonesia — Demonstrasi menyambut dibukanya pertemuan industri batubara paling akbar di Asia, CoalTrans 2007, hari ini. Greenpeace bersama dengan organisasi-organisasi masyarakat lokal dan para turis menuntut penyelenggara pertemuan tersebut untuk berhenti memanfaatkan batubara ketika dampak-dampak iklim kini telah diprediksikan akan mengorbankan negara-negara termiskin dan paling rentan di Asia.
"CoalTrans adalah pertemuan industri tak bermoral yang bertanggung jawab sebagai pendorong kita semua ke jurang bencana iklim. Para perusak iklim tersebut, bersamaan dengan kroni-kroni pemerintah mereka terus mendorong investasi skala besar kebohongan teknologi ‘batubara bersih’ dan ekspansi operasi penambangan di wilayah Asia,” ungkap Nur Hidayati, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara. "Negara-negara maju dalam kelompok G8 dan negara-negara anggota APEC berada di pihak yang salah juga dalam krisis iklim, namun negara-negara tersebut bukannya bertanggung jawab namun sebaliknya tetap saja menyodorkan batubara di negara-negara berkembang.”
Di Pantai Kuta, Bali, Greenpeace melakukan pawai dengan mengusung rakitan sebuah monster naga yang sedang menyemburkan Karbon dioksida dalam bentuk ribuan balon, menggambarkan berlipat gandanya berat serta volume batubara setelah dibakar (1).
"Kita sedang menghadapi kondisi iklim yang sangat gawat. Emisi Karbon dioksida yang berasal dari bahan bakar fosil—pendorong utama perubahan iklim—telah melonjak dengan rata-rata yang lebih tinggi dari yang dibayangkan dalam tahun-tahun terakhir ini. Usaha-usaha untuk membawa ekonomi Indonesia bergantung pada batubara dan pembangkit listrik tenaga batubara sungguh merupakan kecerobohan yang akan mengakibatkan dampak-dampak iklim serius yang belum siap dihadapi negara ini. Hanya industri batubara sendirilah yang akan untung (2) selama Indonesia lebih merangkul batubara daripada efisiensi energi dan potensi-potensi energi terbaharukan yang sudah dimiliki negara ini,” tambah Hidayati.
CoalTrans 2007 diikuti oleh para produsen dan operator-operator pembangkit listrik tenaga batubara se-Asia dan negara-negara barat lainnya. Lebih menarik lagi adalah bersamaannya waktu pertemuan industri batubara tersebut dengan pertemuan para pemimpin negara-negara G8 di Jerman, di mana perubahan iklim menjadi agenda utama. Pertemuan itu juga berlangsung setelah bertemunya menteri-meteri energi APEC di Darwin, Australia. Sama dengan Amerika Serikat, Australia menolak Protokol Kyoto dan menjadi pemimpin terdepan inisiatif-inisiatif di wilayahnya dalam hal ekspansi batubara ke negara-negara lain, seperti Indonesia.
"APEC seharusnya mengedepankan visi yang lebih mulia untuk meningkatkan kerjasama energi di wilayah Asia Pasifik, yaitu dengan memberi prioritas terhadap efisiensi energi serta energi terbaharukan, dan menjadikan batubara bagian dari masa lalu. APEC seharusnya tidak menjadi forum bicara saja yang terus membiarkan kantong perusahaan bahan bakar fosil menjadi tambah tebal, khususnya yang dibantu oleh perjanjian-perjanjian ekspor batubara,” kata Catherine Fitzpatrick dari Greenpeace Australia. www.greenpeace.org/seasia